PROFIL PGIW MALUKU
I.
PRAWACANA.
Di Yohanes 17: 20-21 Tuhan Yesus berdoa: “Bukan untuk
mereka itu saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu
oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau
ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,
supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.
Ayat ini menjadi sangat populer di kalangan orang
Kristen terutama dalam hubungannya dengan kehidupan bersama sebagai satu
persekutuan umat yang percaya. Namun dalam kenyataannya, upaya kebersamaan dan
untuk bersatu menjadi sebuah perjuangan yang butuh pengerahan segenap sisi
kehidupan bergereja kita di tengah masyarakat plural Indonesia. Tak dapat disangkali
banyak tantangan baik yang datang dari luar maupun dari dalam gereja itu
sendiri, yang terkadang dapat melemahkan semangat beroikumene dan menimbulkan
riak-riak kecil dalam proses berjalan bersama.
PGIW sebagai wadah persekutuan Gereja-Gereja di
Wilayah, secara maksimal terus berupaya
bekerja dan berkarya ke arah itu. Demikian pula PGIW Maluku dengan dukungan
seluruh Gereja anggota secara terus menerus mengupayakan semangat oikumene
bukan saja di kalangan Gereja Anggota melainkan juga dengan Gereja-gereja non
PGI dan dalam relasi dengan agama-agama lain. Secara khusus, PGIW Maluku,
memiliki concern mengenai semangat beroikumene dan pengembangan wawasan
pluralis terkait pemulihan kehidupan masyarakat setelah peristiwa 1999-2003
yang lalu. Dalam uraian di bawah ini
dijelaskan secara ringkas kiprah PGIW Maluku dalam kehidupan bergereja dan
bermasyarakat dan perkembangannya.
Rakernas PGIW se-Indonesia akan sangat bermanfaat bagi
perkembangan pekerjaan pelayanan dan kesaksian PGIW/Gereja, di tengah dunia.
II.
SEKILAS SEJARAH PEMBENTUKAN PGIW MALUKU
- PGIW Maluku sejak 1967-1984.
Lahirnya PGI, 25 Mei 1950 dengan tujuan mewujudkan
satu Gereja Kristen yang Esa di Indonesia, telah melahirkan semangat
beroikumene di kalangan Gereja-gereja anggota dengan mengisyaratkan pertumbuhan
dan perkembangan serta semangat meng-esa berasal dari bawah – tingkat jemaat/wilayah.
Pemikiran tersebut melahirkan keputusan dalam Sidang
Raya DGI VI di Makassar untuk membentuk Dewan Gereja Wilayah di wilayah-wilayah
yang ada di Indonesia.
Itu artinya, keesaan Gereja digumuli pada tingkat wilayah dimana Gereja-gereja
berada.
Keanggotaan DGW terdiri dari Gereja-Gereja anggota DGI
di suatu wilayah tertentu, sedangkan kegiatan DGW melibatkan Gereja anggota DGI
maupun non DGI. Hal ini menunjukkan upaya dan semangat untuk membangun
kebersamaan dan persaudaraan (secara informal) tidak dibatasi oleh
tembok-tembok organisasi Gereja melainkan semangat meng-esa sebagai pengikut
Kristus yang sama-sama mendiami bumi ini secara bertanggung jawab.
Dewan Gereja Wilayah Maluku dibentuk di Ternate pada 5
Pebruari 1967. Pada waktu pembentukannya DGW Maluku didukung oleh 4 Gereja
dengan jumlah anggota masing-masing pada waktu itu, sebagai berikut:
Ø
Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), 6000 anggota
Ø
Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH), 15.000
anggota
Ø
Gereja Bala Keselamatan Korps Ambon, 100 anggota
Ø
Gereja Protestan Maluku (GPM), 574.862 anggota
Dalam perkembangannya, DGW Maluku tahun 1978 bertambah anggota dengan
masuknya Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) yang jumlah jemaatnya pada
waktu itu 200 orang. Hingga Sidang Raya DGI 1984, DGW Maluku beranggotakan 5
Gereja. Sejauh itu, kegiatan DGW Maluku belum nampak implikasinya dalam
pertumbuhan oikumenis. Keterlibatan Gereja Katolik perlu dicatat sebagai upaya
partisipasi yang cukup baik sebagai Gereja yang sama-sama bertumbuh dan
berkembang dalam wilayah dengan situasi, budaya dan keadaan masyarakat yang
sama.
III.
PGIW MALUKU TAHUN 1984-SEKARANG
Upaya-upaya menuju kebersamaan dan persekutuan sebagai
Gereja-Gereja yang hidup dan berkembang dalam satu wilayah terus dipupuk
melalui wadah PGIW. Meskipun Maluku sempat dilanda peristiwa memilukan
tahun1999 – 2003 yang berkaitan langsung dengan kehidupan kebersamaan bahkan
dalam cakupan yang lebih luas; antar-agama, namun semangat keesaan bahkan wawasan
pluralis terus diperjuangkan.
Beberapa kegiatan dapat dicatat sebagai upaya
membangun kembali Maluku yang dilakukan oleh PGIW, diantaranya:
1.
Sesuai PTPB Bab VIII menyangkut hubungan kerjasama
dengan semua umat beragama khususnya Peraturan Bersama Meteri (PBM) maka PGIW
Maluku telah melaksanakan Seminar Sehari dengan tema: Management Pluralisme Dalam
Bingkai NKRI. Kegiatan ini
melibatkan seluruh Gereja Anggota PGIW Maluku, PGPI, dan Gereja Katolik.
2.
Dalam hubungan antar-Gereja, PGIW Maluku mengadakan Doa Untuk Bangsa dan Kemanusiaan,
dengan melibatkan Keuskupan Amboina, PGPI dan Gereja-Gereja Anggota PGIW
Maluku.
3.
TOT Dokumen Keesaan Gereja dengan mengundang SEKUM PGI Dr.Richard Daulay,
telah dilaksanakan dalam kerangka proses pemberdayaan wanita, laki-laki, pemuda
dan anak, dalam lingkup PGIW Maluku.
4.
Kegiatan-kegiatan menyangkut HUT maupun
hari-hari raya gerejawi, selalu dilaksanakan dalam kebersamaan dengan
Gereja-Gereja anggota maupun Gereja-gereja non PGI, secara rutin.
Dengan dibentuknya kembali Komisi-komisi yang baru di PGIW Maluku,
semangat beroikumene terus berkembang. Kegiatan yang dianggap signifikan dalam
proses membangun hidup bersama adalah “perjumpaan”. Semakin sering
Gereja-Gereja anggota berjumpa (dalam berbagai ivent), maka semakin sering terjadi interaksi, proses saling
mengenal dan belajar memahami satu sama lain serta mengupayakan adanya kesadaran
bersama tentang tanggung jawab pemberitaan Injil dan tanggung jawab bersama
atas “rumah kediaman bersama” yakni bumi ciptaan Tuhan ini untuk dipelihara dan
dijadikan sebagai rumah yang aman dan membawa sejahtera bagi seluruh
penghuninya.
Dalam perjalanan pelayanannya,
PGIW Maluku terus mengalami pertambahan anggota. Namun demikian ada juga salah
satu anggota yang memisahkan diri. GMIH sebagai salah satu Gereja Anggota yang
pertama dalam pembentukan PGIW Maluku, akhirnya memisahkan diri dari PGIW
Maluku sejak 2002 karena pemekaran Provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku
Utara. Hal tersebut dibicarakan dalam Sidang Wilayah di Manado. Sebenarnya
tidak otomatis demikian. Peranan GMIH dalam PGIW sejak berdirinya dan dalam
perkembangannya sangat besar. Dalam beberapa periode kepemimpinan PGIW, jabatan
Sekretaris Umum selalu dipercayakan
kepada GMIH. Menjadi pemicu semangat meng-esa bagi Gereja-Gereja Anggota yang
lain, aalah karena ada 2 pusat Sinode, yakni GPM dan GMIH. Namun karena alas an
yang sudah disebutkan tadi, sekarang hanya GPM yang pusat sinodenya di Ambon/Maluku.
Ada
pendapat yang mengatakan bahwa dalam beberapa waktu tertentu sepertinya GMIH
kurang diberikan peluang. Terkait dengan itu maka perlu dicatat bahwa
kesetaraan antar-gereja perlu dibangun dan dipupuk sebagai modal persatuan dan
persekutuan. Gereja yang besar (secara kuantitas) ataupun Gereja yang kecil
adalah memiliki fungsi dan peran serta
tanggung jawab yang sama dalam lingkup PGIW. Hal ini perlu menjadi perhatian
dalam perjalanan PGIW ke depan.
Sekalipun demikian, dalam
uraian ini kami perlu pula mencatat upaya positif yang telah diperjuangkan oleh
PGIW Maluku dalam tanggung jawab pelayanan dan kesaksian yang diembannya.
Semangat keesaan nampak semakin bertambah justru
ketika peristiwa 1999-2003 melanda
Maluku. Rasa keesaan bertambah kuat ketika tantangan datang. Banyak kegiatan
yang dilakukan secara bersama-sama dan tentunya dengan semangat kebersamaan
melalui wadah PGIW Maluku. Sangat nampak bagaimana tantangan mempererat
hubungan antar-gereja. Namun ketika situasi semakin kondusif, semangat
keesaanpun menjadi menurun. Masing-masing Gereja sibuk dengan dirinya sendiri
dan hanya berjumpa dalam acara-acara seremonial tertentu saja. Hal tersebut
menunjukkan kesadaran keesaan sangat minim dan hanya nampak pada permukaan
saja. Tak dapat disangkal, sikap-sikap eksklusif, triumfalistik masih terus
mewarnai persekutuan meskipun tidak menimbulkan dampak negative yang
controversial. Dari pengalaman-pengalaman tersebut PGIW Maluku sungguh-sungguh
menyadari betapa pentingnya kesadaran oikumenis perlu ditingkatkan dengan
kegiatan-kegiatan praktis di lapangan dan perjumpaan secara kontinyu sebagai
saudara sejati di dalam Kristus.
Keanggotaan PGIW Maluku saat ini adalah sebagai berikut:
- Gereja Protestan Maluku (GPM)
- Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)
- Gereja Bethel Indonesia (GBI)
- Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA)
- Gereja Kasih Karunia Indonesia (GEKARI)
- Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS)
- Gereja Tuhan di Indonesia (GTdI)
- Gereja Suara Ketebusan (GSK)
- Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB)
- Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK)
- Gereja Bala Keselamatan Korps Ambon (GBK)
- Gereja Kristen Protestan Injili Indonesia (GKPII)
Majelis Pekerja Harian PGIW Maluku, sebagai berikut:
1. Ketua Umum :
Pdt.Dr.J.Chr.Ruhulessin,M.Si.
2. Ketua I :
Pdt.P.Edwin Kembauw
3. Ketua II :
Pdt.Kapten Sugeng Purnomo
4. Sekretaris Umum :
Pdt.Ny.L.Likumahwa,M.Th.
5.Wakil Sekretaris :
Pdt.Ir.S.M.Taribuka
6. Bendahara :
Pdt.Ny.D.Pelmelay
7. Wakil Bendahara :
Ev.Hendry
8. Anggota :
- Pemuda : Ev.S.Farneyanan
- Wanita :
Ev. Ny.N. Pattirane
- MPL :
Pdt.Ir.D.Souhoka,MP.
IV.
MENUJU MASA DEPAN
Bertolak dari pemahaman seperti itu, maka lingkup
kesaksian dan pelayanan PGIW Maluku mencakup hubungan Gereja-Negara,
Gereja-Agama-agama dan Lingkungan Hidup, Hubungan Gereja-Gereja dan
Pemberdayaan. Pembagian ini merupakan upaya pengimplementasian Dokumen Keesaan
Gereja secara khusus PTPB secara lebih jelas. Sebab sesungguhnya lingkup
kesaksian dan pelayanan kita mencakup hubungan-hubungan tersebut dan
Pemberdayaan Pelayan dan Warga Gereja.
PGIW Maluku tetap memberikan arahan dan dorongan
tentang reevangelisasi yang mesti dilakukan oleh masing-masing Gereja anggota
terhadap warganya, sehingga warga Gereja diperhadapkan dengan panggilan untuk
membarui komitmen imannya. Ini sangat diperlukan sebab banyak warga Gereja
telah kehilangan motivasi Injili di tengah kemajuan zaman. Selain itu, PGIW
juga memberi dorongan agar hubungan antar-gereja ditandai dengan sesuatu yang
konkret; saling menolong. Menopang dan menghargai satu sama lain. Sebagai
mitra, Gereja-Gereja Anggota semestinya dapat melaksanakan berbagai program
pembaruan untuk saling menguatkan.
V.
PENUTUP
PGIW Maluku berjalan bersama anggota Gereja lainnya,
dalam semangat oikumenis terus berpacu di tengah tantangan zaman yang datang
silih berganti. PGIW menjadi bagian dari yang lainnya, sebagai wadah oikumenis
dimana Gereja-Gereja bertemu untuk saling berbagi, saling menguatkan dan saling
menopang untuk tugas panggilan memberitakan Injil kepada segala makhluk.
Keterbukaan dan kesadaran oikumenis mesti dimiliki
oleh setiap anggota gereja yang dinampakkan dalam aksi bersama dan untuk
kepentingan bersama pula. Semuanya mengacu pada tugas panggilan bersama sebagai
gereja Tuhan yang ditempatkan di bumi yang satu ini, sebagai rumah bersama.
Kita hidup, berkarya dan membangun dalam kesadaran dan tanggung jawab kepada
Dia Sang Kepala Gereja. Kristus datang ke dunia dan menyatakan kasihNya kepada
semua orang. Inilah yang harus menjadi perspektif Gereja yang berkarya dan
melayani.
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia,
dan kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
Ambon, 2
Mei 2009
Pdt.Lastri Likumahwa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar